Selamat Datang di Blog SMK Ma'arif Kota Mungkid (untuk berita terbaru, ... klik saja cover di atas)

Sabtu, 06 November 2010

Merapi Meletus Dahsat, SMK Maarif Kota Mungkid jadi Barak Pengungsian

Semenjak merapi meletus besar pada Kamis malam, 4 Nopember lalu aktifitas pembelajaran di stemakid diliburkan karena kondisi alam yang tidak menentu dan dinilai cukup berbahaya.
Jalan dan lingkungan sekolah penuh abu vulkanik dan pasir yang sangat tebal dan pekat.

Malam itu pukul 01.30 warga Deyangan terbangun oleh bunyi kerikil yang jatuh di atap rumah, dengan disertai pasir dan abu yang sangat tebal. Juga terdengan bunyi pletok-pletok, suara pohon yang tumbang karena tak kuasa menahan beban pasir/abu dari merapi. Kentongan berbunyi tanda bahaya, dan sesekali terdengar bunyi gemuruh dari gunung merapi. Sangat mencekam.

Daerah Muntilan, Salam dan Ngluwar adalah daerah yang terparah akibat hujan abu saat itu. Jumat pagi, desa dan perkampungan di daerah tersebut sepi dan kelam, warna putih dimana-mana - semua tertutup abu, seperti kota mati. Pohon-pohon tumbang atau daunnya "sengkleh terkulai" karena tak kuasa menahan beban material vulkanik. Jalanan penuh pasir dan abu yang sangat tebal. Listrik pun padam, sehingga kala malam gelap gulita seperti ditengah belantara yang gersang. Benar-benar mencekam, seperti tiada kehidupan.

Tak terkecuali desa Deyangan disekitar kampus "stemakid" berada. Sekolah tampak putih abu-abu dan kumuh, tak seorangpun terlihat di sana.
Menjelang siang, pengungsi berdatangan ke kampus stemakid. Ternyata sekolah SMK Maarif Kota Mungkid dijadikan BARAK PENGUNGSIAN. Ya .... inilah kesempatan baik untuk berkiprah dan bermanfaat kepada masyarakat / pengabdian pada masyarakat.
Warga pengungsi berasal dari desa Ketunggeng Muntilan yang berada pada radius 12 km dari puncak merapi. Total pengungsi berjumlah +-800 jiwa.
Seluruh ruang kelas dijadikan ruang untuk barak, kecuali bengkel dan lab. komputer. Maka situasi sekolah mendadak menjadi ramai siang-malam. Dan aktifitas pengungsian pun dimulai, hilir mudik pengungsi, relawan dan aparat terlihat setiap harinya. Bantuan pun mulai datang silih berganti, dari logistik, air minum, alat keperluan masak dan peralatan pendukung lainnya.

Oleh karena sekolah sebagai barak, maka pihak manajemen sekolah memutuskan untuk meliburkan kegiatan belajar sampai 1 minggu, seterusnya menunggu perkembangan lebih lanjut.

Tidak ada komentar: